Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Tuesday, February 15, 2011

Relung (Part 7)

Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Gelisah seketika itu juga menyelimutiku. Geram pun merajaiku. Lama jemariku tak berkutik di atas keyboard. Tertegun. Bingung.
Rasa kangen dan sayang itu begitu menyakitkan aku. Tapi rajutan kalimatnya yang menolakku seperti sebuah tamparan keras.
“Bimo”.
Entah dorongan apa yang menguatkanku, meski hanya sebuah kata dari dua huruf saja.
“ya”.
Damn. “Kenapa aku harus membalasnya?” keluhku dalam hati. Tekanan begitu dalam yang aku rasakan saat ini. Semuanya begitu bercampur aduk.
“Apa kabar, Bimo?”
“Hai! Kabarku standar aja”. Jawabku apa adanya.
“Kok standar?”
What the hell???? Gerutuku. Nggak tahu apa, yang udah lo lakukan ke gue? Nggak tahu apa gimana susahnya gue saat ini? Umpatku bertubi-tubi. Pfuih gak ngefek juga. Toh dia gak tau bagaimana ekspresi wajahku menatap layar monitor. Geram. Marah.

Friday, October 29, 2010

Relung (Part 6)

Berkali-kali ku coba buka mata ini. Berat rasanya. Entah sekarang jam berapa. Yang aku tahu, cahaya matahari begitu kuat menerobos masuk lewat sela daun jendela kamarku. Ku lirik jam di dinding. Jam 1 siang. Pfuih, 12 jam lebih aku tidur.
Aku tidak segera beranjak. Masih terkapar dalam kantukku.
Aku tarik selimut kembali menutupi seluruh tubuh.
Argh, bangun!!!!
Ku duduk di tepian tempat tidur. Beranjak menuju jendela kamar dan membukanya lebar-lebar. Panas euy, keluhku. AC ku matikan.
Musik turn on. Gen Fm. Sindentosca – Kepompong. Medium beat. Ini yang aku ingin dengar saat ini.
Perlahan aku menuju dapur. Berhati-hati dengan langkahku.

Saturday, April 10, 2010

Relung (Part 5)

Ku hanya terdiam. Ku pejamkan mata serapat yang aku bisa. Tak ingin rasanya membaca jika ku tahu harapan yang ku miliku terpatahkan begitu saja.
Sendiri. Itu yang aku rasa kini.
Rasa itu memang bermain di antara kita dan mengalir begitu saja. Meski aku, kamu sudah mengetahui hati ini telah dimiliki siapa. Dan aku sudah jelas tahu kamu telah dimiliki. Tapi, rasa yang terlarang itu mengalir juga. Perasaan suka, mengagumi, sayang, dan tidak ingin ditinggalkan pun terjadi.
Aku pernah tahu ketika kamu menangis karena takut ku meninggalkanmu. Ku pernah mendapat marahmu tatkala aku mengatakan pergi tanpa sepengetahuanmu.

Tuesday, March 02, 2010

Relung (Part 4)

Baru aku mau klik email itu. Dan...
"Hai, Bro!”
Dion tiba-tiba sudah di depan pintu kamar yang memang terbuka sejak tadi.
Aku urungkan membaca email. Kecewa. Penasaran. Tertunda dech.
Sign out ASAP.
“Elu. Kaget gue. Kok gue gak denger suara mobil lo?”
Nggak penting aku menoleh ke arah suara itu. Sudah akrab terdengar suara baritonnya. Cuma agak sulit menyembunyikan kekecewaanku coz aku harus mengurungkan niat membaca email. But, Dion dah di rumahku. Smile!!!!
“Yah mana mungkin lo denger, kalo lo pasang musik sekenceng itu. Lagipula mana tega kalo lo yang bukain pintu. Pintu juga gak dikunci tuh. Kenapa juga muka lo? Cemberut gitu?”
Udah mulai cerewetnya.
“Gak apa-apa. Boring gue!”, jawabku sekenanya.
Ternyata Mbok ina lupa mengunci pintu. Aku tidak beranjak dari kursiku.
Shut down.

Thursday, February 18, 2010

Relung (Part 3)

Dah sepuluh hari. Terasa banget jenuhnya berada di rumah sakit. Sendiri pula. Tanpa pacar. "Damn! Thanx Rio, lo dah ingetin gue untuk mencari seorang pacar. Tapi lo gak tau kalo kondisi gue sekarang ini, karena dalam perjuangan mencari pacar", umpatku sekesal-kesalnya.
Time to go home now. Dokter Laksmi meminta ku untuk terus kontrol dan melakukan fisioterapi. Ya ya ya ya ya.
Syukurnya, patah tulang ku tidak begitu parah, tapi harus nunggu tiga minggu untuk lepas gips. Lecet di lengan ku pun, sudah mengering. Memar di badan pun sudah berangsur membaik. Cidera di kepala saja yang masih harus rutin di cek. Pfuih, jadi penyakitan gini. Antibiotik, vitamin, dan .... obat tidur....lagi????
Dengan kondisi seperti ini, mustahil aku bisa kembali ke kantor. Jadi, sementara ini tugas kantor bisa aku lakukan di rumahku.

Saturday, February 06, 2010

Relung (The Series)

Sudah seminggu sejak aku bulat dengan keputusan itu. Tapi menjelang satu minggu ini, aku merasa jengah dengan semuanya. Apa salahku? Kenapa jujur dengan perasaan juga kemudian harus dipersalahkan. Dan kini setelah sempat ku ungkap rasa itu, keadaan kemudian tidak menjadi lebih baik. Sms yang tak terbalas, ku pikir sibuk lah. Atau dia memang perlu waktu. Yah, waktu. Aku ingin menelponnya, tidak hanya sms. Aku ingin benar-benar menghubunginya. Ada apa? Haruskah ku menghubunginya atau dia memang perlu waktu untuk menyendiri. Menghubunginya akan menjawab semua pertanyaan itu.
Kriiiing...kriiing
Cukup sekali saja aku menghubunginya.
Aku bersandar pada kursi kerjaku. Meregangkan otot kaki dan tanganku. Menghela nafas panjang. Pejamkan mata. Ah sudahlah. Pikirku dalam hati. Sudah saatnya memang. Dia ingin benar-benar pergi. Dan tidak ingin lagi di ganggu oleh bajingan seperti ku.
Powered by Blogger.