Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Gelisah seketika itu juga menyelimutiku. Geram pun merajaiku. Lama jemariku tak berkutik di atas keyboard. Tertegun. Bingung.
Rasa kangen dan sayang itu begitu menyakitkan aku. Tapi rajutan kalimatnya yang menolakku seperti sebuah tamparan keras.
“Bimo”.
Entah dorongan apa yang menguatkanku, meski hanya sebuah kata dari dua huruf saja.
“ya”.
Damn. “Kenapa aku harus membalasnya?” keluhku dalam hati. Tekanan begitu dalam yang aku rasakan saat ini. Semuanya begitu bercampur aduk.
“Apa kabar, Bimo?”
“Hai! Kabarku standar aja”. Jawabku apa adanya.
“Kok standar?”
What the hell???? Gerutuku. Nggak tahu apa, yang udah lo lakukan ke gue? Nggak tahu apa gimana susahnya gue saat ini? Umpatku bertubi-tubi. Pfuih gak ngefek juga. Toh dia gak tau bagaimana ekspresi wajahku menatap layar monitor. Geram. Marah.
Rasa kangen dan sayang itu begitu menyakitkan aku. Tapi rajutan kalimatnya yang menolakku seperti sebuah tamparan keras.
“Bimo”.
Entah dorongan apa yang menguatkanku, meski hanya sebuah kata dari dua huruf saja.
“ya”.
Damn. “Kenapa aku harus membalasnya?” keluhku dalam hati. Tekanan begitu dalam yang aku rasakan saat ini. Semuanya begitu bercampur aduk.
“Apa kabar, Bimo?”
“Hai! Kabarku standar aja”. Jawabku apa adanya.
“Kok standar?”
What the hell???? Gerutuku. Nggak tahu apa, yang udah lo lakukan ke gue? Nggak tahu apa gimana susahnya gue saat ini? Umpatku bertubi-tubi. Pfuih gak ngefek juga. Toh dia gak tau bagaimana ekspresi wajahku menatap layar monitor. Geram. Marah.
