Showing posts with label liburan. Show all posts
Showing posts with label liburan. Show all posts

Tuesday, July 23, 2013

Dari Sosmed ke Kopi Darat


 @lombokvacation, account twitter inilah kali pertamanya aku berhubungan dengan warga lokal tujuan perjalananku via jejaring sosial. Meski frekuensi komunikasi tidak sering, dan bahkan tidak berbalas follow back, tetap account twitter ini jadi acuan rekomendasi perjalanan ku ke Lombok. Ini terjadi pada pertengahan tahun 2011.
Lombok sebenarnya bukan tujuan awal, Bali utamanya. Namun, karena Bali pernah ku kunjungi, aku kemudian, menambah rute perjalanan ke Lombok. Ini menjadi pekerjaan rumah, karena riset rute yang awalnya di luar kepala, kini ku harus memulai dari awal lagi. Belajar geografi!!!
Dengan memiliki waktu libur enam hari, aku membagi pulau Lombok menjadi bagian mata angin, Lombok Utara, Barat, Tengah, Selatan, Timur, dan tentunya Kepulauan.
Namun, dengan realistis, aku menghilangkan Lombok Timur dari daftar perjalanan.
Ku habiskan hari pertama dengan cruising motor, menyusuri Senggigi sampai ke pelabuhan penyebrangan ke 3G.
Bukannya putar balik ke arah berlawanan, aku justru melanjutkan rute lain dengan modal percaya diri. Yang kemudian kepercayaan diri itu perlahan memudar sepuluh menit setelah lepas dari jalan pemukiman. Selanjutnya, yang ku dapati adalah hutan.

Saturday, March 02, 2013

Aturan Beli Tiket Discount

Tiket murah selalu menjadi incaran para traveller. Dan semua merasa perlu untuk datang ke event ini, baik yang semestinya secara finansial tidak perlu diskon, atau mereka yang memang perlu tiket diskon untuk melakukan perjalanan.
Prinsipnya, sepanjang dana bisa diatur, maka selalu ada post-post pengeluaran yang bisa dipangkas - tiket pesawat salah satunya. Semua sah untuk datang.
Namun, diperhatikan juga aturan-aturan, agar antara Anda, pengunjung, pun dengan penyelenggara event bisa merasakan kenyamanan.
1. Pastikan kapan Anda akan cuti/ berlibur. Hal ini mudah dilakukan jika Anda bepergian seorang diri. Namun, jika berkelompok, buatlah kesepakatan terlebih dahulu dengan teman-teman Anda. Tujuannya, agar Anda tidak merepotkan petugas dengan permintaan Anda yang membuka satu persatu tanggal yang terdapat potongan harga. Ingat, penjualan kursi dengan potongan tiket selalu terbatas. Tidak semua kursi.

Sunday, February 03, 2013

Subsidi Silang Liburan

Pilihan waktu, pengaturan bajet maupun destinasi menjadi fokus utama dalam perencanaan sebuah perjalanan. Semua ini bisa disiasati. Jika subsidi tidak hanya terbatas pada kata 'Uang', maka, 'Waktu' pun bisa masuk dalam kategori di-subsidi. Berikut, Subsidi Silang Liburan
  1. Weekend Getaway - Jika pilihan waktu liburan Anda adalah pada akhir pekan, maka ambillah cuti pada hari jum'at. Agar masa liburan Anda tidak terpotong dengan waktu perjalanan, maka pilih penerbangan malam di hari kamis, atau penerbangan pertama di hari jum'at. Kemudian, kembali ke kota asal dengan pesawat terakhir di hari minggu. 
  2. Tiket Promo - Saat Anda telah sukses mendapatkan tiket pergi, maka bersabarlah dengan tidak langsung membeli tiket return atau pulang. Biasanya, pemberlakuan tiket promo hanya tersedia untuk sekali keberangkatan saja. Nah, jika jadwal keberangkatan Anda masih lama, maka sesekali Anda perlu cek harga tiket untuk membeli tiket pulang. Prinsip, jadwal promo tiket pada saat ini, lebih sering berlangsung. Dan, untuk mengetahui jadwal promo ini, ada baiknya Anda berlangganan email gratis maskapai berbajet rendah (LCC).
  3. Low Cost Carrier - Jika jelang keberangkatan, Anda belum juga mendapatkan tiket pulang dengan harga terjangkau, maka kombinasikan perjalanan Anda dengan menggunakan maskapai lain. Toh, perusahaan penerbangan berbajet rendah tidak hanya satu, kan? Mis: citilink.co.id, tigerairways.com, airasia.com, jetstar.com. Dengan cara mengkombinasikan penggunaan maskapai, secara tidak langsung, Anda juga bisa melihat keunggulan masing-masing maskapai. 

Saturday, February 02, 2013

Coto Makassar pertamaku (Part 5)

Jum'at, 30 November jam 6 pagi aku sudah bangun. Terlalu pagi memang untuk bangun di saat cuti liburan. Tapi, ini sudah jadi kebiasaanku pula untuk taat jadwal yang aku buat. Karena, jika tidak, maka akan berdampak sistemik. *halah
Ya iyalah, setidaknya aku perlu waktu untuk bereskan perlengkapan, mandi, sarapan, dan sekedar lakukan obrolan pagi bersama tuan rumah. Dua jam ku rasa cukup, sebelum sopir datang jam 8 pagi, sesuai dengan yang ku minta. Dan yang jelas, batere handphone, tab, power bank sudah terisi penuh, pun batere kamera digital. Beberapa foto terdahulu sudah aku hapus dan ku pindahkan ke storage eksternal memori. Aku yakin sepanjang perjalanan Makassar - Toraja, akan banyak menguras memori kamera.
Jam 8 sudah, sopir belum datang. Kesal. Wajar aku bersikap itu. Karena untuk bangun jam 6 pagi, aku sudah harus mangkas jalan-jalan di Makassar pada malam hari. Dan karena tahu harus bangun pagi, aku segera selesaikan jalan-jalan itu. Lain halnya kalau aku minta dijemput jam 10, maka aku bisa pulang larut, dan pastikan cukup waktu aku tidur, sehingga tidak perlu bangun terlalu pagi. Lagipula, perhitunganku, perjalanan Makassar - Toraja itu, pastinya akan banyak waktu digunakan untuk istirahat di perjalanan, belum lagi break makan siang, istirahat lainnya. Aaaaargh, aku gak mau jadwal yang aku buat berantakan.

Sunday, January 27, 2013

Makassar malam pertama (Part 4)

Dari kampus, kami menuju pusat kota. Torgis menawariku untuk melihat kota Makassar di malam hari, sebelum ke rumahnya. Aku iyakan tawaran itu. Motor pun meluncur.
Sejauh ini, hanya Torgis dan Tuhan yang tahu arah motor. Pasrah dengan kondisi menikmati tiap persimpangan jalan. Aku memang sedikit bermasalah kalau tiba di sebuah kota dalam kondisi malam hari. Tak bisa meraba jalan, menerka rute. Singkatnya buta arah. Itu sebab, aku, kalau tidak terdesak, selalu memilih penerbangan, ataupun bus pagi. Entah, disebut traveller macam apa aku ini? Itu baru satu, masih banyak pengecualian yang aku terapkan saat dalam perjalanan. Tapi, bahasnya nanti aja. Kalaupun itu ingat.
Aku minta Torgis untuk singgah ke kantor biro, yang lokasinya memang searah dengan Pantai Losari. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan di kantor, utamanya konfirmasi sewa mobil milik teman. Tapi, hanya ada satpam. Aku urung masuk. Sisa komunikasi selanjutnya hanya via telepon, termasuk alamat penjemputan. Sementara pembayaran via transfer. Tapi, walau bagaimanapun, aku ingin anjangsana dengan teman-teman kantor. Tidak diwajibkan memang, tapi, merasa perlu. Ini, bisa menjadi keuntungan bekerja di sebuah perusahaan media yang notabenenya, punya perwakilan di setiap kota besar, bahkan kabupaten sekalipun. Sekedar salam, dan memberi tahu posisi. Toh, peristiwa apapun yang terjadi, siapa yang tau? Batere ekstra, telepon hemat batere, plus hands free selalu tersedia di kantong ransel.

Makassar, akhirnya (Part 3)

Pesawat landing jelang malam, jam 7 waktu lokal Makassar (Indonesia Tengah)
Akhirnya, menginjakkan kaki di bumi Sulawesi. Senang. Dan sekejap kemudian kagum dengan Bandara Hassanudin ini, keren dengan disain minimalis, berkesan nyaman.
Aku kirim sms ke Torgis, teman baru dari couchsurfing, sekedar mengabarkan kalau aku telah tiba. Ia pun dengan senang hati memanduku menuju pusat kota via sms yang ia kirim balik. 'Dari bandara, ke kampus bisa naik Damri, nanti turun di depan kampus', begitu sarannya. Yup, kami memang punya janji ketemuan di kampusnya, sebelum lanjut keliling kota Makassar di malam hari, dan kemudian singgah di rumahnya.
Aku pun bergegas keluar terminal bandara dan tanpa susah payah aku temukan plang bertuliskan #BusDamri. Hanya plang, tanpa ada bus. Aku lirik jam tangan, jam 7:15. Ngga mungkin sepi. Toh, dari yang aku baca, bus Damri dari bandara berakhir di jam 10 malam. Tapi,....
Berkali-kali sopir taksi menawariku untuk antar ke tujuan, dengan membayar sejumlah argo tentunya. Tapi, tidaklah, aku masih berusaha untuk tidak naik taksi. Apalagi aku sendiri tidak tahu lokasi persis kampusnya Torgis. Berbekal google traffic, iya, aku paham rute ke kampus. Tapi, ini sudah malam. Bedalah suasananya. Ini bukan kota asalku. Apapun, harus hati-hati.

Saturday, January 26, 2013

Toraja seorang diri (Part 2)

Toraja itu eksotik! Toraja itu luar biasa! Kalau sudah ke Toraja pasti keren!
Ah, proses ke Torajanya yang ga semuda menyebut diri keren, luar biasa kalau sudah injakan kaki ke sana. Proses, brow! Apa yang dilihat? apa tujuannya? Rute mana yang diambil? Pelajari pula adat dan kebiasaan warga lokal. Toh, travelling tidak sekedar keluar rumah, tapi, juga temukan sesuatu yang membuat diri jadi beda. Apa itu? Setiap orang pasti punya misi, kan?
Kurang dari 2 minggu itu, aku banyak belajar terkait dengan Toraja. Bukan hanya adat istiadat warga lokal, tapi juga tipografi jalan, peta kota, transportasi, rute, dan lingkungan. Semua ku lahap. Aku hanya ga mau gagal dalam perjalanan ini. Semua informasi aku lahap, karena ini kali pertama perjalanan ku ke Toraja, dan utamanya ke pulau Sulawesi. Toh, uang yang aku keluarkan juga tidak sedikit. Itu sebab, aku benar-benar pahami keadaan. Banyak tanya lah, dengan orang-orang yang pernah injakkan kaki ke Toraja.
Komunitas perjalanan itu erat kok, hubungan emosionalnya. Percaya deh.
Dari informasi yang kudapat, aku kemudian membuat itineraire untuk 6 hari perjalanan. Waktu tempuh, ku perhitungkan cermat. Jam bangun pagi. Jam sarapan, berangkat. Jatah waktu makan siang, porsi istirahat diperjalanan, sampai peta perjalananpun aku cetak. Jarak tempuh kilometer dan jamnya aku catat. Detail se detail-detailnya. Buat apa? Kan lagi liburan? Oke, liburan pun harus disiplin.

Sulawesi pertama kali (Part 1)

Bisa jadi kali ini adalah rencana perjalanan yang membuat aku labil. Tiket Jakarta - Kinabalu yang telah ku beli hampir setengah tahun lalu, batal ku gunakan. Alasannya, karena kurang dari sebulan, aku belum juga dapatkan tiket yang terjangkau. Tiket balik dikisaran 350 MYR. Padahal tiket ke Kinabalu saat itu ku beli di harga 150K IDR.
Bukan aku kalau tidak bisa utak-atik rute, meski harus menggunakan connecting flight, ke KL kemudian Jakarta. Atau ke Singapura kemudian Jakarta. Atau ke Penang terus ke Jakarta. Tapi, lagi-lagi buntu. Harga tiket masih diluar jangkauanku. Kalau dihitung-hitung, yah, sama aja, 400 MYR. Rugi menurutku. Logis.
Belum kelar urusan tiket, aku juga utak atik urusan hotel. Nah, hotel yang aku gunakan selama di KK pun (Kota Kinabalu) tidak strategis, jauh dari pusat kota. Memang sih, disediakan shuttle bus. Tapi, urusannya jadi ketergantungan. Jadwal pun terbatas. Well, meski dapat harga yang super murah pun, aku, pada akhirnya batal menggunakan. Utak atik waktu, durasi perjalanan. Ga masuk di logika ku. Walhasil, perjalanan ke KK pun aku merugi. Nominalnya berapa? 450K IDR. Aku putuskan dan tekad bulat, batal, agar tidak merugi terlalu besar. Cukup lah. Dan aku kemudian bersiasat. Kemana?
Sabang? Beuh, waktu kian menipis dari jadwal cutiku. Kurang dari sebulan. Belum riset, belum buat itineraire. Panik.

Thursday, December 13, 2012

Passion is ?

Negara tujuan berikutnya? Negara yang penuh lembah, dan situs sejarah yang eksotik. Aku suka gunung, lembah, pantai, dan laut (dari atas kapal). Belum tertarik melihat kedalaman.
Kalau sejarah, aku suka melakukan pemikiran tentang hal bagus, buruk, dalam tiap pengamatan. Jadi, saat dalam perjalanan, selalu ada bahan untuk didiskusikan dengan orang lokal di tempat tujuan. Tidak semata-mata belanja mata, tapi juga belanja otak, logika, dan hati. Pekerjaan rumah sekali memang. Tapi, ya itu tipikal aku tiap kali lakukan perjalanan.
Jadi, banyak foto saat belanja mata. Banyak cerita saat belanja pemikiran.
Aku suka lakukan itu semua. Seru aja.
Jadi, misi ke destinasi perjalanan itu sudah di rancang karena ingin mengetahu sesuatu.
Pengalaman saat berada di Gunung Padang, aku habiskan 3 jam di atas Gunung nya. Ngobrol dengan petugas jaga. Analisa banyak hal, yang mungkin untuk sebagian orang ya sekedar Gunung. Tapi, aku melihat dari perspektif lain. Dan memang banyak yang bisa dikaji. Tidak hanya menghela nafas panjang saat naiki anak tangga.

Sunday, June 24, 2012

Cium Kening Emak

Masih jelas diingatan usai berbuka puasa tahun lalu, aku mengatakan, "Mudah-mudahan sebelum lebaran tahun besok kita umroh ya, Mak", ucapku. Emakku pun mengamini. Kala itu entah mengapa aku begitu yakin untuk bisa berangkat. Padahal tabunganku pun tak yakin pula untuk terkumpul. Namun, lagi-lagi, aku merasa berkeyakinan untuk pergi bersama emak ku.
Meski tidak pula gratis, antrian karyawan yang ingin ke tanah suci pun terus memanjang. Mungkin ini satu jalan keluar dari banyak jalan yang aku dapati. Selebihnya, cuma bisa pasrah. Tak memaksa target. Jika memang akan berangkat, maka Insya Allah pasti berangkat.
Dan tiap kali, mengingat janji itu lagi di hari dan bulan berikutnya, yang ada hanya ketidakpercayaan diri aku yang mempertanyakan niatku, 'Bisa?'
Tapi, kekonyolan apalagi saat aku berucap, "aku nggak mau jalan-jalan ke luar negeri sebelum umroh". Itu aku ucapkan jelang traveling di Vietnam berakhir, per Agustus 2011.
Rrrrrrrrgh

Sunday, April 15, 2012

#Solotraveller 7th Day: off to Sapa

sapa

Saturday, December 03, 2011

Baju Bekas di perjalananku

Sejak punya hobi travelling satu tahun terakhir, aku pun punya kebiasaan baru, yaitu berburu baju bekas. Alasan utama bukan karena aku kekurangan baju, tapi, lebih karena sisi kepraktisan. Tas ransel yang ku miliki sejak 4 tahun lalu tidak memiliki banyak ruang. Awalnya aku maklum, jika kondisi tas akan terasa berat saat berangkat. Dan jika usai perjalanan, aku mau isi tas berkurang. Dan baju-baju bekas itu lah yang aku akhirnya buang, agar ruang di tas ku berkurang. Dengan demikian, juga berkurang beratnya. Apakah kemudian aku akan kembali penuhi dengan oleh-oleh? Nop. Don't push your luck.
Aku biasa berbelanja di pasar baju bekas di kawasan pasar senen. Biasa ku lakukan seminggu jelang keberangkatan. Dan biasa aku habiskan hingga 2 jam untuk mencari baju bekas. Kriterianya, tidak hanya masih layak pakai, tapi juga warna, dan model. Ya, itung-itung, saat di foto, baju ku ngga itu-itu aja sih. Dengan 60K idr aku bisa dapat 4 potong baju.

Saturday, October 15, 2011

#Solotraveller 4th Day: Last day in Saigon to Hanoi

20/09/11 Cukup aneh sebenarnya menurutku, tiga hari di Ho Chi Minh, tapi tidak pernah sempat merasakan suasana kota yang sesungguhnya. Sejak tiba sabtu malam, Tien langsung mengantarku ke travel dan booking perjalanan selama di kota ini. Dan di hari selanjutnya, aku sudah terjadwal untuk ikut tour ini dan itu. Pulang tour sore, justru aku lebih memilih untuk tinggal di penginapan, atau sekedar cari makan yang tidak jauh. Paling hanya sekitar jalan De Tham street atau perempatan jalan, menyusuri blok, ke perempatan jalan lagi.
Hingga berakhir di kedai kecil, biasa aku pesan macaroni dan nasi goreng plus ayam goreng. Nongkrong dengan waktu yang tidak terlampau lama. Bukan karena tidak nyaman, tapi, lebih karena cuaca di Ho Chi Minh saat aku berada di sana tidak bersahabat. Gerimis, yang kadang disertai dengan hujan deras. Kondisi hujan ini yang kemudian membatalkan perjalananku dengan Daisuke ke Pecinan usai dari Mekong.
Kedai ini rasanya yang paling pas dengan lidahku. Kecil banget tempatnya. Hanya ada 4 bangku pendek, dan meja yang selevel. Menu yang ditawarkan pun juga hanya macaroni dan nasi aja. Plus pemilik yang tidak bisa berbahasa inggris. Transaksi hanya dilakukan dengan menuliskan Dong di selembar kertas. Dan aku mengiyakan dengan anggukan kepala dan senyuman. Selanjutnya, ia langsung memasak. Kedai ini, aku sudah jadikan tempat makan sejak hari kedua. Paling aman.

Monday, September 26, 2011

#Solotraveller 3rd Day: Mekong Delta - Get More

19/09 Yeaaaaaa bangun kepagian lagi dan disambut dengan kegalauan. Terlalu banyak yang dipikirkan, apa yang bisa aku lakukan. Dan apa yang terjadi di hari ini? Tarik nafas panjang aja dulu. Sebelum akhirnya beranjak untuk sholat. Adem pikiran untuk kemudian lanjut untuk tidur, berusaha untuk tidur tepatnya. Dan bangun sebelum alarm membangunkan aku.
Okey, hari ini jadwal tour berikutnya adalah Mekong Delta Full Day Trip. Terdengar amat sangat menyenangkan? Yeaaaa
Seperti biasa, pagi di kantor TheSinhTourist sudah banyak peserta tour yang datang. Bus sendiri dijadwalkan berangkat jam setengah sembilan. Dan, aku kemudian bertemu dengan Stepensen. Turis asal Malaysia. Nggak tahu nih orang seru sendiri pas liat aku, mungkin senang aja kali yah, ketemu lagi di rombongan tour yang sama. Dia sendiri bersama 3 teman lannya.
Berusaha cari anggota group lainnya untuk diajak ngobrol, aku kemudian merapat ke seorang Jepang, yang kemudian ku ketahui bernama Daisuke, #solotraveller juga.

Tuesday, September 20, 2011

#Solotraveller 2nd days: Cu Chi Tunnel #HoChinMinh

18/09 Lagi, bangun terlalu pagi, padahal semalamnya pun juga ngga tidur lebih awal. Leyeh-leyeh di atas tempat tidur nggak jelas. Baru setengah jam kemudian alarm berbunyi. *tepokjidat
Mungkin akunya yang terlalu antusias dengan perjalanan ini, jadinya pikiran terus menerawang, sementara daya tahan fisik dipaksakan. Ini nggak bagus. *pecut
Ya paling aku mengonsumsi vitamin, juz, dan minum banyak air. Kalau karbohidrat? Mmmmm berharap aku kurusan dalam 11 hari ini, karena fisik dipacu terus. Mahal ya, boooow mau kurus aja kudu jalan-jalan.
7:45 aku sudah berada di kantor TheSinhTourist di De Tham Street, dari tempatku menginap, hanya 5 menit berjalan kaki.
Aku tidak banyak melakukan aktivitas pagi dengan berjalan-jalan, meski hanya di sekitar tempatku tinggal. Nggak banyak pula jadinya, hal-hal yang diabadikan. Sarapan di sini dengan menu yang tidak bisa aku makan, membuat aku pilih yang pasti-pasti saja. Syukurnya, aku masih punya simpanan roti sobek yang aku bawa dari Jakarta, dan sisa roti sobek lainnya. Cukuplah untuk sekedar mengganjal perut, plus menghajar yogurt. Ah, sehat beneur.
Di #HoChiMinh, banyak warga yang sarapan di luar rumah. Umumnya, di pinggir jalan. Berbangku dan bermeja kecil dengan ditemani kopi, atau teh, dan semangkuk Pho. Tergoda memang untuk merasakannya, meski hanya duduk di pinggir jalan. Tapi, ya sudahlah, aku coba cari kenikmatan lainnya dengan cara ku sendiri.

Sunday, September 18, 2011

#Solotraveller 1st Day: Ho Chi Minh - Nervous

17/09 Jam 4 pagi aku sudah beranjak bangun. Ini di luar kebiasaanku. Dan ini sudah terjadi sejak 3 hari lalu. Tapi dini hari itu, rasanya lebih parah. Aku sudah coba lagi pejamkan mata, tapi nggak berhasil. Aku akui memang, aku mengalami yang namanya....nggak tahu deh istilah apa. 'Kata' itu pun baru aku temui beberapa jam kemudian, itu pun dalam usaha untuk tidur yang kembali gagal.
Perjalanan #solotraveller ku kali ini memang teramat menguras pikiran. Galau? Yes tentu. Dan pada saat terbangun itu lah, sempat kepikiran untuk membatalkannya. Atau paling tidak memangkas waktu perjalanan, dari 11 hari menjadi 4 hari saja. Cukup di Saigon, tidak perlu lagi lanjutkan ke Hanoi.
Pikiran-pikiran itu yang terus menggangguku. Namun, sisi pikiranku lainnya berkata, perjalanan ini harus diteruskan. Jadilah perang bathin, dan sukses deh, aku tidak tidur.

Sunday, May 29, 2011

#Solotraveller 4th Day: Penang - Happy

"Good morning. How are you" "Hi, I'm good, thank you for asking me". "So where do you go?" "Yeah, this is the bus to Bukit Bendera" "Correct" "How long it takes?" "About 45 minutes" "Oke, thank you."
Yeaaaaah pagiku dimulai dengan senyum dari sopir perempuan Rapid Penang. It was gold, folks.
Ramah bener, dan itu jadi booster perasaanku seharian ini. Setelah kemarin....
Siapapun pasti akan senang dengan keramah tamahan, tak terkecuali jika keramahan itu diberi oleh seorang sopir sekalipun. G, kalian harus tahu bagaimana ekspresiku saat itu. Senyum, hanya sebuah senyuman, yang membuat satu hari itu menyenangkan. Good sign.

#Solotraveller 3rd Day: Penang - C'est Grave

30/04/11 Jam 7 pagi aku sudah siap dengan tas ransel. Menarik nafas panjang, dan 'oke, this is it, my next destination #Penang". Penang sebenarnya bukanlah tujuan akhirku. Karena menjawab tantangan seorang teman, kemudian memperhitungkan jarak yang ngga terlalu jauh dari #Melaka, aku kemudian mengiyakan. Mengiyakan dalam waktu kurang dari 2 minggu. Alhasil kasak-kusuk. Ubah rute, riset lagi, dan hunting tiket. *tepokjidat.
Namun, baiklah, sepertinya ke #Penang, akan melengkapi wisata kota tua ku di pesisir Melaka ini.
Karena sudah tak ada lagi yang aku lakukan di kamar, aku putuskan untuk ceck out.
Dan tidak perlu bangunin si penjaga hostel. Katanya, kalo mau ceck-out, kunci kamarnya cukup di lempar ke dalam saja. Baiklah. *pring
Gerimis, maaaaaak!

#Solotraveller 2nd Day, Melaka - I'm so free

29/04/11 07:00 Aiiiiiiiiiih masih gelap bener. Waktunya salah nih. Celingak celinguk, sepi. Bengong di depan pintu. Beneran masih sepi. Swear, aku nggak bohong. Dingin? Nggak sih, tapi laparnya pasti.
Widiiiiih McD 24 jam itu membuat pandangan nggak kemana-mana. Sumpah, aku suka banget dengan posisi hostel ini, strategis bener. Hidup seolah berada di tengah-tengah peradaban, yaitu peradaban kuno dan modern. Tapi, kaki lebih memilih melangkah ke Seven Eleven, 5 meter dari hostel. Roti dan air kemasan ukuran 1,5 liter. Hey, aku sudah mandi shubuh tadi.
Aku pun balik ke kamar, dan menyendiri. Menyusun rencana perjalanan berikutnya di kota ini.
Kalau kemarin, sisi kanan sungai Melaka, maka hari ini adalah sisi kirinya. Dimana banyak bangunan tua Islam. Yup, berdasar pengamatanku sih seperti itu. Dan sisi kiri sungai juga banyak tinggal penduduk lokal. Dan aku tahu, perjalanan hari ini beneran yang super lama, seharian penuh. Jonker Walk salah satu tujuan.

#Solotraveller 2nd Day Melaka - Touchdown Yup

28/04/11 Jam 13 aku tiba di Melaka setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam setengah. Dari Larkin ke Melaka langsung bablas tol, keluar tol kemudian 30 menit menuju terminal sentral, dan 30 menit ekstra mencapai pusat kota Melaka.
Christ Church, bangunan yang dulu hanya bisa aku lihat dari tayangan tivi, namun sekarang bangunan berwarna merah itu, tepat berada di depanku. Akhirnya. Alhamdulillah.
Pekerjaan selanjutnya adalah mencari alamat guesthouse Crazy Backpacker di jalan PM 2. Bingung. Meski aku sudah tanya belasan kali ke supir untuk minta diturunkan di lokasi terdekat, tetap saja...lost!
Powered by Blogger.