Showing posts with label reportage. Show all posts
Showing posts with label reportage. Show all posts

Saturday, October 25, 2008

Rekso Projo


Nampang bentar di Loji gandrung

Solo 1st day

Pagi di hari pertama di Kota Solo, sudah bertandang ke Hotel Sunan. Bukan untuk ceck in tapi untuk mengurus banyak hal untuk liputan sepuluh hari ke depan di Solo. Tiba semalam di Solo dengan Sriwijaya Air jam 19:45. Langsung meluncur ke Pramesthi, kurang lebih lima belas menit dari bandara. Menelusuri malam yang masih muda. Capek n laper. Dan foto di atas adalah sebagian dari aktifitas panitia yang incharge di WHCC dan Siem. Sementara jumlah yang lebih banyak lagi dapat di temui di lobby bawah. Perjalanan yang cukup panjang berada di kota ini. Suhu? Dieu, il faut chaut chaque jour, je crois. Dormiro per 4 giorni in Riyadi Palace. Masih ngantuk banget euy. Tapi, perjalanan hari ini adalah ke Sragen. Satu setengah jam perjalanan menuju barat pusat kota. Adoh a.k.a jauh yah. Secara hari ini belum banyak acara yang bisa dicover. Baru sore menjelang malam. Dan besok adalah adalah acara terpadat. Nikmatin aja lah. Masih nggak habis pikir untuk charge taksi 40.000 dari bandara ke hotel meski jarak yang ditempuh relatif dekat. Jadi berpikir, bagaimana operator taksi itu menghitungnya yah???

Friday, October 24, 2008

Sabar euy


Heran bgt ma penumpang pesawat, blm juga pesawat buka pintu dah pada diri. Aneh

nge- Blog partout

Yeeeee, aku nemuin cara baru untuk tetap update blog dimanapun aku berada. Ini sebenarnya teknologi lama yang sudah dikembangkan Blogger dengan Google, hanya saja aku baru 'menemukan' teknologi. But, tetap saja yang dibutuhkan adalah jaringan komunikasi yang tetap dapat diakses dimana pun aku berada. Jieeee. Mmmmm jadi tambah rajin dech nih update blog. Via handphone pula, untungnya, perangkat teknlolgi dari Sony Ericsson K850i juga menanamkan software blog untuk tiap foto yang berhasil dicapture. Jadi, tambah cinta dengn SE.

Wednesday, October 15, 2008

Lavoro


Stanco

Tuesday, October 14, 2008

travaille


La part de mon bureau

Sunday, September 07, 2008

true viaggi: 4th stape Pati

Last night at Pantura. Setelah berputar cukup lama di Semarang, akhirnya memutuskan tidur di Santika. Itupun harus kembali tersesat mencari jalan A Yani, terusan Pandanaran lepas Simpang Lima dari arah Tugu Muda. Lost in Semarang. Wex. Cukup dua hari lah bermalam di Santika. Dan Ajaib dengan ID, penginapan pun dapat diskon, meski tidak kalah banyak diskon dari kota-kota sebelumnya. Cukup 15 persen, lebih kecil dibanding Hotel Prima yang 50 %. Kalo Plaza hotel gak tahu lah. Berharap dapat tidur nyenyak n ingin bangun agak siang sedikit, nyatanya gak terkabul. Serangan serangga gak henti di sepanjang malam. Wex, ku pikir hanya semut, nyatanya, runtuhan rayap yang memenuhi bagian bawah bantal. God. Gila, jadi semalaman aku tidur bersama ratusan rayap di hotel ini. Tanpa banyak komentar, aku pun complain ke hotel n belum sempat aku beri keterangan banyak, gak tau nya room boy dah tahu kejadian itu. Jadi.....sebagai kompensasi aku HANYA dipindahkan kamar dari 227 ke 107. HANYA DIPINDAHKAN KAMAR. Padahal dari yang ku tangkap pembicaraan dengan room boy, kejadian runtuh rayap itu sering terjadi. La wong saat aku bilang, yah udah tolong bersihkan, saya keluar sebentar. Justru roomboy menyarankan untuk pindah kamar, takut kamar 227 keruntuhan rayap lagi. JADI.....MASALAH NECH TIDUR DI SANTIKA. Apa yang menarik di Semarang? Keramaian simpang lima yang dari tahun ke tahun memang menjadi trademark. Duduk lama di waktu hampir tengah malam di depan McD Citraland. Nggak ada yang menarik. Pulang ke hotel naik becak 5 ribu. Pfuih, meski masih menyisahkan satu dua pekerjaan lagi, tapi setidaknya kota kabupaten tujuan akhir liputanku sudah kulakukan. Bisa dilihat ekspresi muka ku, kan? Sono cosi felice di poter finirlo. Esok siang perjalanan kembali ke Jakarta. Akhirnya. Sejalan dengan kepulanganku, permasalahan yang mendera sejak awal keberangkatan secara otomatis sudah teratasi. Seperti ada keajaiban. Batere hp yang drop a.k.a ngadat, sudah kembali normal. Dan yang paling penting adalah vibratenya berfungsi kembali. Internet yang sempat nge-drop pun kembali normal. Hanya saja, flashdisc harus aku korbankan sementara waktu karena terinfeksi virus. Mungkin virus yang terbawa saat aku print materi di hotel2 sebelumnya. Yah, sudahlah, bukan materi yang terlalu penting. Jadi ingin segera balik ke Jakarta. Berasa banget lama berada di luar Jakarta, itu pun yang tidak stay menetap di satu kota tertentu. Jadinya.....

Tuesday, August 08, 2006

Ini liputan luar kota ke dua ku setelah Palembang awal juli kemarin. Jogjakarta. Sudah lebih dari tujuh tahunan sejak kali terakhir aku ke sana ketika masa smu dulu. Pfuih dah lama sekali. Berarti ini kali ketiga aku ke jogja. Selang lama waktu aku smp, aku pun pernah ke sana dengan rombongan teman-teman smp. Dan sekarang, aku di sini dalam rangka tugasku sebagai seorang reporter. Seneng banget. Ada liputan Jogja ~ Netpac Asian Film Festival di kota gudeg ini.
Pesawat Batavia Air yang dijadwalkan berangkat pukul dua, ternyata baru bisa take-off jam 2:45 sore. Meski tidak merubah rencana dan jadwal liputan di sana, tapi setidaknya ini berimbas dengan jadwal istirahat setelah sampainya di sana. Apa yang ada dibenakku terbukti. Penerbangan limapuluh menit itu membawaku ke bandara adisucipto. Sebagai bandara internasional yang ku lihat hanya kesederhanaan saja. Landasan pacu yang tidak begitu panjang, buat aku khawatir dengan waktu landing nantinya. Tapi cukuplah penerbangan tadi membawa mataku menghapus langit jogja. Dan dari atas jogja aku masih bisa melihat sisa-sisa gempa.
Aku disambut panitia yang kemudian menghantarku ke hotel selama aku tugas. Lima belas menit perjalanan ke depan, supir menjelaskan sisa sisa gempa yang membekas sepanjang kanan kiri jalan. Bahkan retakan gempa masih saja tampak, meski usai gempa pemerintah kota sudah melapisi jalan yang retak itu dengan lapisan aspal. Tapi tetap saja, aku membayangkan kejadian itu pada 27 mei lalu.
Harmony Inn, nama hotel itu. Tapi, fisik bangunan tidak menunjukkan ini adalah sebuah hotel. Losmen mungkin lebih tepat. Lokasinya dekat dengan pusat penginapan turis. Tapi, sumpah aku lupa nama jalan tersebut. Tak banyak waktu yang aku punya untuk bisa mengingatnya.
Usai meletakkan tas yang baru saja ku beli beberapa hari sebelum keberangkatan, aku mandi. Pfuih segar banget. Tak banyak nafas yang ku hela di hotel ini, aku pun berangkat ke Ambarukmo Plaza, venue tempat berlangsungnya festival tersebut.
Sebenarnya, selain liputan, aku memiliki agenda lain untuk bertemu dengan dua orang temanku. Meski ada beberapa temanku yang tinggal di jogja, namun karena keterbatasan waktu, aku hanya menghubungi mereka berdua. Dan, meski begitu aku harus focus dengan liputanku kali ini.
Cesar café n Pub nama tempat itu dijadikan tempat berlangsungnya press conference. Banyak sekali teman-teman media yang datang. Kebetulan aku juga ditemani dengan salah satu teman reporter dari biro jogja. Wex?laper. Baru nyadar kalo perut ini sudah sejak pagi tadi belum terisi kembali.
Malamnya aku menyaksikan pembukaan festival dengan pemutaran perdana OPERA JAWA. Aku suka film tersebut. Suka sekali bahkan. Bercerita tentang kehidupan rumah tangga sepasang suami istri yang pada akhirnya harus menemukan perbenturan dengan masalah rumah tangga pada umumnya. Uniknya, sepanjang film ini, dialog antar pemeran, semuanya dilagukan, bahkan ditarikan. Ini yang membuat aku jatuh cinta pada film ini. Dan aku termasuk orang yang beruntung, karena film ini hanya diputar di Indonesia setelah festival berikutnya di wina, Austria, dan itu November akhir tahun ini.
Jadwal yang padat akhirnya membuatku baru bisa bertemu dengan sahabatku lewat tengah malam. Syukurnya, sahabatku mau berbaik hati dengan berkendara motor singgah di penginapanku. Tidak bisa kebayang bagaimana senangnya aku bertemu dengan sahabatku ini. Sadar kalau sudah terlalu larut malam, pembicaraan kami pun dihentikan pukul tiga pagi. Berarti hanya dua jam kami ngobrol.
Beruntung aku masih bisa bertemu dengannya di tengah jadwal liputanku. Karena ada satu teman smu yang pada akhirnya tidak dapat bertemu. Padahal, kalau dipaksakan, meski hanya beberapa menit saja, kami masih bisa bertemu. Karena pada jam yang bersamaan, kami sudah berada di dalam kampus UGM, namun beda gedung.
Hari ke dua di jogja, tak banyak yang aku lakukan. Hanya melengkapi kekurangan liputan hari sebelumnya. Setelahnya, keliling kota jogja menunggu penerbangan ke Jakarta jam lima sore. Nyaris aku gunakan waktu yang sempit itu untuk melihat kota ini. Satu hal yang wajib adalah oleh-oleh. Baju batik, bakpia patok, dan aku membelikan satu buah lonceng untuk sayangku. Buatku, grafir nama di atas lempengan besi yang kupautkan pada id card-ku. Malioboro itu.
Powered by Blogger.