Showing posts with label cuore. Show all posts
Showing posts with label cuore. Show all posts

Wednesday, January 28, 2009

Kamu

Berulang kali aku coba memendam jiwamu dalam-dalam
mencoba untuk pahami dan melupakanmu
menghapus pikiran dari mu yang membebaniku
yang selalu manipulasi benak dan jalan pikiranku
namun....
pesonamu menjebakku

Saturday, January 24, 2009

Meradang

Seperti biasa kamu datang dan pergi
dan aku pun telah terbiasa
terbiasa untuk menahan
dan terbiasa untuk meradang
coba pahami lagi dan lagi
coba berdamai dan berdamai lagi
tapi kamu seolah tak pernah tahu
pun tak pernah menyadari tiap kata yang terucap olehmu
karena tak pernah kamu rasakan itu
karena tak pernah sungguh sungguh kamu berkata
hanya keinginan saja

Friday, January 16, 2009

Sejenak saja

Tak bisa lagi membaca dirimu
Jauh sudah
Tak lagi ku kenal sosok hangat itu
Sudah jelas kamu ingin pergi
Mudah itu semua terganti dan berubah untuk mu
Dan menghapus hati yang kamu miliki
Mudah itu semua bagimu
Perasaan sesaat
Terbawa emosi sesaat
Hanyut aku karena mu
Hanya merindukanmu yang kini telah semu
Berada di tiap saat dengan bayanganmu
Sudah jelas kini seperti apa aku kini di hadapmu
Hanya sejenak mengisi ruang kosong dan kejenuhanmu
Kala itu, tak ada yang bisa dan memungkinan mengisi ruang itu
Karena ku telah terpilih olehmu
Semoga indah waktu bersamaku yang kamu miliki dulu kamu rasakan
Meski sejenak
Tak ada hak ku atas kamu kini
Karena aku tak lebih dari hanya simpananmu

Jauh

Kamu tau nggak?
Kalo aku masih ingat tiap garis wajahmu yang membekas usai kamu tersenyum
Dan garis itu kian tegas jika kamu usai tertawa
Apalagi aura wajha mu begitu dapat ku nikmati indahnya saat kamu menatapku begitu lekat
Aku kangen itu

Saturday, January 10, 2009

luluh

Itu yang aku rasa
Itu yang mengganggu pikiranku
Perang batin dalam diri yang aku jalani
Berdiri dalam abu abunya diriku
Tapi ku tak bisa
Aku ingin bebaskan hatiku
dari kebohongan yang memasungku
Kebohongan itu hanya menambah luka menuju palung hatiku
dan jujur pada perasaan yang ku miliki adalah jawab dari semua galau
Endapan lara ku sudah berada pada titik nadir ku
Dan ku pun tak mampu kuasai diriku
Aku tak ingin galau ini
kalau aku sendiri tahun jawab untuk hapus galau itu
Aku luluh dan sadar akan keyakinan jalan ini
jalan pada sebuah kenyataan kalau kamu pun ingin
Ingin kangen dan rindu itu
Kenapa haru ada aral tinggi yang melintang
karena itu tak ada
kalau tanpa nya pun kamu mudah melangkah dan memelukku
meraihku
Aku juga ingin indah
Aku juga ingin kamu indah denganku
Masih ada ruang itu untuk kamu
Biar kan hati kecil mu yang berkata jujur
dengan kasih yang kamu miliki
Bila rasa ini adalah juga rasamu
mau kah kamu? dan membiarkanku menjadi lelakimu
Meski semua telah terjadi

Lelaki untuk mu

Kalau cinta masih ada saat ini, kenapa harus munafik
dengan meredam cinta yang kita punya
Tak ingin ku kubur itu semua jika kamu juga merasakan yang aku rasakan
Dan pertarungan batin yang ada tak mungkin juga aku kalahkan
Karena aku ingin terus berjuang untuk perasaanku kini
Perasaan yang juga ku yakin kamu masih ada untukku
Karena aku ingin menjadi lelaki mu

Monday, January 05, 2009

bedtime stories

Kalau memang bahagia yang harus aku raih dari bawah lagi harus dengan cara seperti ini, maka aku lebih memilih ini
Memilih ini meski tidak menyenangkan dan menyesakkan
Aku hanya bisa mengenang sebuah keindahan waktu yang pernah ku jalani dengan mu
Senyummu, wajah masam mu, dan dingin tatkala kelam menyelimuti aura wajahmu
Entah kenapa aku bisa baca garis wajah duka yang tiap kali menyelimutimu
Bahkan berat suaramu ku yakin ada yang membuatmu galau
Berat bebanmu seakan ku ingin bantu untuk ringankan, meski ku tak tahu mampu kah aku
Kala malam bergelayut pun
Kala mata berat untuk terbuka
Kala lelah telah begitu terbebani sekalipun
Masih ingat tatkala mengamati gelisah mu tatkala dirimu menyimpan getir dalam senyummu
Sudahlah, kamu masih begitu indah untuk dikenang, sayang

Sunday, January 04, 2009

die

Biar ku sembuhkan diri dan bangkit atas keterpurukan aku
dan tidak mudah
Biar ku pergi dan menghilangkan luka
meski ku tak bisa
aku jatuh dalam dilema
dan aku sudah tidak temukan aku lagi
asa yang tiada dari hela nafas yang tercekik
terbaring
dan menerawang
gelap
dan menangis
jatuh
rapuh
tawa hanya semu yang tertinggal di belakang
kosong
dan ku ingin nikmati itu semua seorang diri
tanpa siapapun
hanya aku

Friday, January 02, 2009

Noir

Mestinya ku tahu dan menyadari dengan semu yang kumiliki,
Mestinya sudah ku ketahui juga jika jelagah ini begitu kelam menuntunku
Beragam warna yang ada di depanku sebenarnya hanya kamuflase dari jelaga itu
Hitam, tidak lain
Dan bukankah, seindah apapun warna itu, akan hitam juga akhirnya
Hitam yang kudapat, tidak lain
Dan dalam kelam pun pada akhirnya aku harus berjalan
Sendiri
Dan aku tak bisa
Mestinya sudah ku ketahui itu sejak dulu
Dan ketika ku bertemu satu persinggahan, akankah mudah bagiku menelusuri
Sengaja memenjarakan diri
Meski ku tahu ku mampu terbang jika ku mau
Pergi
Jauh
Mencari jalan yang tidak berujung dan bebas
Terbang, namun jatuh karena kerapuhanku juga

Wednesday, December 31, 2008

lay down

Ada rasa enggan beranjak dari peraduan, meski mentari sudah menantangku dengan panasnya. Berulang kali hela nafasku mengusir keluh di pagi. Menata semangat untuk satu hari. Satu hari ini saja. Satu hari ini dulu. Itu pun bila kumampu. Tapi, bagaimana ku dapat melangkah, jika mataku enggan mengajakku langkahi hari ini.

in fuoco

Aku baru saja masuk ke dalam fase baru perjuangan hidup yang aku ciptakan sendiri untuk satu jalan yang aku anggap dapat memberi pencerahan pada diriku.

Monday, December 29, 2008

Con te

Mencoba untuk terbiasa dengan keadaan baru di dalam hati yang telah mulai terisi. Terisi oleh gelisah, penat, dan cinta. Entah mana yang akan mendominasi? Seberapa besar kekuatanku untuk dapat menang dengan pertarungan batin dan cinta yang aku punya? Aku tidak ingin ungkap. Aku ingin simpan ini sendiri. Meski ini bukan kebiasaanku. Tapi, kenapa harus teredam? Dan kenapa harus dipaksakan samar, kalau cinta ini sebenarnya telah ada dan telah kita nikmati?

Sunday, December 28, 2008

Me in grey area

Aku hanya ingin menata hidupku. Dan aku ingin tahu tujuan akhir hidupku. Apakah salah? Dan ketika kemudian harus berbenturan dengan kepentingan pihak lain, apakah aku harus mengorbankan perasaan diriku untuk diberikan kebahagiaan ke orang lain? Dan ketika waktu terus berjalan, apakah penyesalan yang akan datang akan terhapus dari sebuah permintaan maaf yang datang? hanya karena membela kebahagiaan orang lain sementara kebahagiaanku sendiri tidak aku perjuangkan?

Saturday, December 13, 2008

Feel Free

Cukup sudah dua hari dengan penuh pergulatan yang tiada henti. Sudah saatnya menghibur diri tanpa peduli apapun. Aku berhak dapatkan itu. Banyak cerita yang tersimpan, tapi tak satupun bisa diungkap. Bukan tidak ingin, melainkan tidak bisa pula. Entah, tiba-tiba semua bloquer. Di sinilah aku sekarang, Bandung. Damn, kenapa dua hari ini seperti berada di neraka. Untungnya pergulatan emosi ku masih bisa teredam. Dua minggu lebih, aku berkutat dengan permasalah microphone yang hilang di kantor, berat permasalahannya karena mic itu dipinjam atas namaku. Sementara aku sadar banget gak lagi pinjam mic itu. Jadinya selama kurun waktu itu, konsentrasiku terbagi, antara pekerjaan, kehilangan mic, dan permasalahan berimbas pada keuanganku satu tahun ke depan. Wec, aku harus ganti mic itu lah. Tuhan beri aku jalan. Sehari sebelum deadline. Mic itu ku temukan di dalam sebuah laci pojok ruangan dekat ruang digitize. Yup di laci Xin Wen. Damn, aku benar benar mengutuk orang yang berani menyimpan mic itu. Entah sadar or ga, tetep aja tidak dibenarkan menyimpan mic selama dua minggu. Apalagi status mic itu dipinjam bukan atas namanya. Ngga tau diri dan benar benar gak lucu. Gak punya pikiran. Apa yang akan terjadi kalo aku tidak menemukan mic itu lepas tanggal 15? Gaji ku dipotong perbulannya selama satu tahun. MIKIR GAK SECH LO???? Kerugian yang dialami karena kelakukan lo yang benar benar GAK LUCU!!!! MERDE!!!! Aku berhak luapin kata kata ini, karena perasaan ini yang aku pendam selama dua minggu, dengan segala komplikasi sebabnya kemudian hari. GILA!!! Satu permasalahan belum terlalu usai, keesokan harinya, kejadian yang bikin ngenes. Tapi sudahlah, sekarang aku dah bersama teman teman baruku. Membuka pergaulan baru. So far, mereka cukup menyenangkan. Dan apa yang kudapati sekarang, aku nikmati. Karena gak ada cara lain, bukan?

Thursday, November 27, 2008

Countdown

Lepas dari semua yang ada rasanya berendam dalam kesunyian adalah pilihan terakhir, daripada harus bermuram dan mengutuk diri. Semuanya bisa saja menjadi mungkin, tapi apakah lelah dapat meluluskan keinginan yang kutahu adalah sesuatu yang mustahil. Kenapa semuanya kemudian menjadi karam? Terdiam di kedalaman. Teronggok bisa dalam kesunyian yang begitu dingin. Bernafas pun tidak bisa, bahkan enggan untuk menyambung asa. Biar ini kemudian tenggelam saja. Tak ada lagi eksistensi atas kemampuan. Meski banyak ingin yang muncul. Tapi, jika waktu telah ditentukan, ku mau apa lagi? Apalagi? Balik lagi ke filosofiku "Berkorban untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar"

Thursday, November 20, 2008

Lontano

Mi sento come è in un punto sopra la punta di un albero che non ha molti posti in cui stare e anche a muoversi. Situato in una saturazione. Nel frattempo, molti desiderato. Non è divertente in queste condizioni. Voglio andare così lontano.

Monday, September 29, 2008

ben pagato?

Puasa menjelang hari terakhir. Jangan tanya kualitas puasa ku tahun ini. Banyak yang Tuhan sudah beri ke aku, tapi sebaliknya. Tapi banyak pula yang tidak kumiliki lagi di bulan puasa tahun ini. Tahun ini, sepanjang perjalanan sejarah, aku tidak buka puasa dengan teman-temanku. Baik itu buka puasa di luar, apalagi di rumah yang memang biasa aku adakan, sebagai ajang reuni kecil2an. Sudahlah, hidup sudah banyak yang berubah. Prioritas sudah sangat dimatangkan. Dan buka puasa sudah bukan lagi milik kami dan bukan prioritas kami. Well, banyak hal yang kupikirkan, tapi banyak pula yang diacuhkan dan dianggap angin lalu. Ada pula sejumlah kebahagiaan yang kumiliki, tapi aku masih inginkan kebahagiaan lain. Tak jarang, aku paksa diriku berpikir keras untuk raih kebahagiaan lain itu dan menampik banyak kebahagiaan yang telah aku miliki sebelumnya. Ada kala di mana aku rasa penat menggunung meskipun aku tahu benar cara lari dari penat itu. Mengasihi bahkan mengasihani diri. Aku masih inginkan itu. Tak kuasa melepas, tapi juga tak kuasa merangkul. Aku coba berdamai dengan diriku. Dan biarkan mengalir apa adanya aku. Ah, apa lagi yang kuinginkan? Hanya inikah yang aku bisa lakukan dengan rutinitasnya? Tanpa aku pernah bisa mengukur apa yang bisa lebih kulakukan. Atau aku dibiarkan tak bebas mengukur kapasitasku. Aku ingin lebih dari yang aku punya. Salah? Dan mengapa aku harus dan merasa perlu melihat orang untuk apa yang ku ingin? Akankah mereka melakukan hal yang sama? Aku tak ingin lebih banyak mengumpat lagi. Diam dan lakukan saja!!!

Wednesday, June 11, 2008


Ku pikir blog yang aku pernah create dua tahun lalu, hilang sudah, akibat, akunya yang lama, bahkan teramat lama tidak update postingan baru. Dan malam ini setelah lelah berputus asa mencari sisa-sisa tulisanku, akhirnya kutemukan pula, sejumlah tulisan, rata-rata puisi yang telah banyak aku buat. those are my treasures, coz, it was so difficult to re find. Memang ada tulisan yang menyiratkan sekelumit permasalahan yang pernah membebaniku kala itu. Tapi, ya sudah lah. Toh aku lebih banyak berprinsip, apa yang telah lewat justru bisa buat aku tertawa jika mengingatnya.

Sebelum kembali menemukan blog ini yang sempat "hilang", belakangan aku juga coba untuk bikin blog baru dibeberapa situs yang menawarkan blog gratis. Tapi, kok, yah, aku lebih sreg di sini, di blogger.com. Ya sut lah. lanjutkan saja kegiatan menulis ini. Toh sekarang udah ada laptop, akses internet unlimited. jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak kembali menulis.

Sudah banyak perubahan yang terjadi dalam hidup. Karir dan pekerjaan tentunya. Aku sekarang dipindahkan program reguler. Sudah 3 bulan sejak awal maret. Seneng banget, meski aku akui ada kalanya pasang surut. Tapi kecendrungan terjadinya pasang surut itu lebih karena keletihan fisik, dan benturan kepentingan dan order pekerjaan dari atasan yang aku anggap dia bukan sesungguhnya atasanku, yang justru buat aku tampak bodoh dalam mengeksekusi pekerjaan. Semua itu lantaran order pekerjaan yang tidak pernah dibuat sejelas mungkin. Yang jelas, dunia pekerjaan yang aku jalani sekarang, lebih dinamis. Benturan itu biasalah terjadi dimanapun, aku tidak pungkiri itu. Lagi pula hati ku sudah kebal menghadapi yang begituan.
Tiga bulan ini, aku lebih banyak mengeksplor apa yang menurut aku, aku tidak bisa melakukannya. Nyatanya...aku bisa. Ketakutan melangkah untuk menggarap program ini juga aku alami. Pengorbanan yang aku harus lakukan pindah dari program sebelumnya, untuk mendapatkan sesuatu yang besar.
Untungnya produserku yang baik hati memberikanku kebebasan untuk melakukan apa saja. Aku coba untuk emban kebebasan itu agar bisa memberikan yang terbaik untuk programku di tengah incaran litbang dan rating yang memang harus dipertahankan dan diperbaiki.
Jalani saja dengan lepas, tidak perlu ada beban. Tapi kalau sedang dalam keadaan sakit seperti ini? Duh gak enak banget. Ingin rasanya cepat sembuh, coz, aku mau tetap incharge garap up close n personel with X MAKEENA, group musik dari Prancis. Sebuah pembuktian, kalau aku bukan hanya sekedar reporter yang kerap garap kuliner. Pfuih, sebal juga dianggap seperti itu. Nyatanya, aku sebenarnya juga menggarap berita lainnya. Hanya saja frekuensi tampilanku di kuliner lebih sering daripada liputan feature ku yang lain.
Rasanya obatnya sudah mulai ngefek nech. Dah mulai ngantuk...besok masih off dulu aja. Enak gak enak. Kalaupun di kantor juga, gak konsen kerja, malah tambah nyusahin orang lain.

Thursday, December 15, 2005


je t'ai regardé sans bouger mais, tu me laisse a pleuré quand tu m'as quitté Pourquoi j'étais stupide qui a continué à espérer pour toi? Est déjà je sais que tu n'es pas en effet soucié de moi Et cela, devrait je comprendre Vraiment était malade l'amour auquel cela pas répond. Et dois je n'ai pas forcé si finalement seulement blessé moi Probablement je ne pouvais pas en effet me faire mon bien-aimé. Cela m'a entièrement aimé Mais je désirais si seulement hésitant a été calmé par te cet esprit J'ai seulement continué a espéré tes un jour compris Pas un simple avait compris Comme je avec la sincérité extrême je t'ai aimé

Je ne ferai pas les mêmes erreurs que toi.
je ne me laisserai pas Causer tant de misère à mon coeur
je ne casserai pas la voie que t'as faite,
T'es tombé si durement j'ai appris la voie dure de ne jamais le laisser l'obtenir loin
je perds ma voie
je ne peux pas respirent facilement
Ne peut pas dormir la nuit Avant que tu ne soit par mon côté
Aucun je ne peux pas rêver encore un autre rêve
Powered by Blogger.