Friday, April 07, 2006


Episode # 171 Topik: Mengukur Kualitas Perkawinan. Barangkali itu merupakan topik terakhir yang aku kerjakan di program talkshow The Breakfast Club. Sudah setahun ini aku mengasuh program itu. Dengan alasan satu dan lain hal, akhirnya aku pindah program. Ilmu yang kudapat pun jauh lebih banyak dan beragam di program ini. Orang-orang yang kuhadapi pun beragam, dari kalangan atas, sampai kalangan bawah. Dari para amatir sampai para profesional di bidangnya. Tiap episode yang kukerjakan, tiap episode pula kupelajari dan kudapati ilmu baru pula. Menarik dan tantangan tiap harinya.
Aku masih ingat kali pertama program ini berjalan. Ritme kerja yang benar-benar rodi. Apalagi ketika awal program mulai, kami harus streaping live everyday, every morning. With different topic each days, different guest each days, and different challenge. Kumaklumi semua itu, karena tidak mudah menemukan soul sebuah program baru, soul dalam kerja sama tim. Dan kami secara perlahan membangun program itu sampai sekarang. Hingga kemudian kami menemukan soul kerja sama tim, ritme kerja, dan karakter program. Sebagai production assistant terbilang pekerjanku all in one. Guest what does it means??? Pfuih, aku bangga jadi satu bagian kerja kreatif itu.

Sunday, April 02, 2006


Namanya Denis ? namanya ku samarkan. Usianya baru saja tiga tahun. Tapi seusianya itu, ia sudah pernah merokok dan minum alkohol. Ia masih memiliki orangtua yang lengkap, hanya saja tidak selengkap kasih sayang yang Denis inginkan ? kalau saja ia sudah bisa ungkap perasaannya. Sudah beberapa hari ini ia di asuh oleh seorang ibu dekat rumahku. Meski ibu itu sudah memiliki tujuh anak, tapi masih juga ia rangkul kehadiran Denis. Perubahan fisik Denis mulai tampak sejak ia ada. Badannya jauh lebih bersih. Gigi susunya semakin memutih. Rambutnya dipotong pendek. Sorot matanya lebih segar dan semakin hari semakin tampak segar dan jauh lebih bahagia. Denis sangat diterima di dalam keluarga ini. Itu terlihat jelas. Sebagai ?anggota keluarga baru? Denis beri arti khusus dalam keluarga ini. Denis dulu yang ada hanyalah seorang bocah yang didiamkan bebas ketika ayahnya bekerja. Denis dulu yang ada hanyalah seorang bocah kecil yang dibiarkan tidur di atas kardus. Bahkan Denis pernah mendapat hadiah sundutan rokok dari sang Ibu kandung. Denis yang dulu bahkan akrab dengan kehidupan anak jalanan. Sebagai ?anggota geng terkecil?, Denis tak diberi kesempatan untuk bertanya apa sebenarnya yang ia mau. Bahkan Denis tidak segan-segan dicekoki minuman beralkohol oleh ?kakak-kakaknya?. Denis pun harus mengamen untuk memenuhi keinginannya makan somay. Berbekal gitar kecil dan gelas minum mineral bekas, ia bernyanyi di kawasan padat lalu lintas. Uang dua ribu perak pun berhasil memenuhi perutnya dengan somay. Denis kini tampak lebih bahagia. Denis kini pun menjerit takut jika ibu kandung ada dihadapnya. Denis kini pun jauh lebih tahu kalau ayahnya jauh lebih sayang dengannya. Hanya saja, ayah Denis tahu yang terbaik untuk si kecil Denis. Bersama ?keluarga? nya sekarang Denis jauh lebih baik.

Kemarin malam, aku sempat OL di yames dengan salah satu teman di Malang. Dia banyak Tanya tentang Siena. Una piccola citta in Italia. Dove habitavo per sei messi. Yang jelas, ia ingin tahu segalanya tentang kota berkode 0577 itu. Seketika saja, aku menyadari kalau persis di tanggal ini, aku baru saja tiba di kota itu. Stress di wajahku masih saja terlihat. Jetlag dan merasa asing dengan keadaan sekitar. Kebahagiaan dan kehangatan rumah tiba-tiba saja hilang. Dalam pikirku yang ada hanya misery berkepanjangan. Maklum saja, questo era la prima volta ero lontano dalla casa. Bahkan untuk tidur pun tidak ada guling. Tapi berjalannya hari, hanya kegembiraan yang ada. Kebebasan? Tidak juga. Anggur, bir, daging babi, tidak pernah ku sentuh, meski kesempatan selalu ada. Aku survive di sana dengan lingkungan yang nyaman dan teman-teman yang bersahabat. Bahkan seorang teman berkata kalau ia tidak akan mau berteman denganku jika ia tahu aku minum alkohol. Lo sa che sono musulmano. Alisher?.sei bravo!!! Senyum mereka buatku betah berlama-lama ngobrol. Budaya mereka tidak berpengaruh dengan adat timurku. Bahkan mereka tertarik dengan culture yang aku punya. Khatam al-qur?an pun ku lakukan di sana. Dua juzz tiap malam. Yasin kubaca tiap malam jum?at. Intinya, hidupku lebih teratur di sana. Aku bertanggung jawab atas kenyamanan dan ketenangan batinku. Komunikasi Siena ? Jakarta, tetap terjaga. E-mail hampir tiap hari ku kirim, Surat ku tulis sebulan sekali. Telpon kulakukan seminggu sekali. Aku tidak merasa kehilangan keluargaku di sana. Bahkan kalau ku mau, tiap email yang kukirim bisa kujadikan sebuah novel. Semua nyata akan aku dan kebiasaanku, dan bagaimana aku kemudian bertahan hidup dengan caraku. Cukup tiga minggu ku biarkan air mata ini mengalir, karena realitis aja, pada awalnya semua membawa kepedihan. Kepedihan bukan karena luka. Tapi, tiga minggu selanjutnya, tidak ada yang bisa kulakukan selain coba jalani hidup. Berbenah diri. Mendewasakan diri. Banyak cara bisa dilakukan. Nikmati saja yang ada. Well, dude, I think you are already knew what you have to do next. Try to survive. ?Coz everybody do. Ci sono le cose che devi fare. Ma non ci sono i tempi solo a pensare. Vai!!!
Powered by Blogger.