Rasanya ingin meledak saja kepala ini. Ibarat harddisk komputer, kepala ini sudah penuh,
Wednesday, February 10, 2010
Sunday, February 07, 2010
Relung (Part 2)
“Hi, Bim!”
“Hi, Bim!”
“Apa kabar, Bro?”
Mendadak suasana pecah dengan suara yang aku kenal akrab. Masih dalam keadaan mata terpejam, aku coba mengenali suara itu satu persatu. Anti, Dina, dan Rio. Teman kantorku. Aku berusaha membuka mataku yang begitu lekat. Efek obat tidur yang aku minum siang tadi, ternyata masih kuat efeknya.
“Hai, guyz!” sapaku setengah berbisik.
“Aduh, sorry, Bim, dah ganggu waktu istirahat lo!” ujar Anti seraya mendekat. Dina dan Rio mengekor di belakang dan kemudian mengelilingiku.
“Gak apa-apa, kok, aku seneng ketemu kalian!” jawabku.
“Mudah-mudahan, sih, kehadiran kami, gak ganggu kamu. Nih, ada buket bunga dari temen-temen kantor. Mereka juga titip salam untuk kamu. Kangen tuh!”
“Hi, Bim!”
“Apa kabar, Bro?”
Mendadak suasana pecah dengan suara yang aku kenal akrab. Masih dalam keadaan mata terpejam, aku coba mengenali suara itu satu persatu. Anti, Dina, dan Rio. Teman kantorku. Aku berusaha membuka mataku yang begitu lekat. Efek obat tidur yang aku minum siang tadi, ternyata masih kuat efeknya.
“Hai, guyz!” sapaku setengah berbisik.
“Aduh, sorry, Bim, dah ganggu waktu istirahat lo!” ujar Anti seraya mendekat. Dina dan Rio mengekor di belakang dan kemudian mengelilingiku.
“Gak apa-apa, kok, aku seneng ketemu kalian!” jawabku.
“Mudah-mudahan, sih, kehadiran kami, gak ganggu kamu. Nih, ada buket bunga dari temen-temen kantor. Mereka juga titip salam untuk kamu. Kangen tuh!”
Saturday, February 06, 2010
Relung (The Series)
Sudah seminggu sejak aku bulat dengan keputusan itu. Tapi menjelang satu minggu ini, aku merasa jengah dengan semuanya. Apa salahku? Kenapa jujur dengan perasaan juga kemudian harus dipersalahkan. Dan kini setelah sempat ku ungkap rasa itu, keadaan kemudian tidak menjadi lebih baik. Sms yang tak terbalas, ku pikir sibuk lah. Atau dia memang perlu waktu. Yah, waktu. Aku ingin menelponnya, tidak hanya sms. Aku ingin benar-benar menghubunginya. Ada apa? Haruskah ku menghubunginya atau dia memang perlu waktu untuk menyendiri. Menghubunginya akan menjawab semua pertanyaan itu.
Kriiiing...kriiing
Cukup sekali saja aku menghubunginya.
Aku bersandar pada kursi kerjaku. Meregangkan otot kaki dan tanganku. Menghela nafas panjang. Pejamkan mata. Ah sudahlah. Pikirku dalam hati. Sudah saatnya memang. Dia ingin benar-benar pergi. Dan tidak ingin lagi di ganggu oleh bajingan seperti ku.
Kriiiing...kriiing
Cukup sekali saja aku menghubunginya.
Aku bersandar pada kursi kerjaku. Meregangkan otot kaki dan tanganku. Menghela nafas panjang. Pejamkan mata. Ah sudahlah. Pikirku dalam hati. Sudah saatnya memang. Dia ingin benar-benar pergi. Dan tidak ingin lagi di ganggu oleh bajingan seperti ku.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.
