Well, akhirnya, gw menyetujui rencana ke Bandung. Tapi, gw mengajukan syarat, tidak naik bus, tidak naik mobil pribadi, tapi naik kereta. Plus ekstra perjalanan ke Cianjur, tepatnya ke Gunung Padang. Alasannya karena gw ingin melihat pemandangan dan menikmati rute lain menuju Bandung. No more Cipularang. Karena mereka menginginkan gw ikut, jadi persyaratan pun dipenuhi. Ehehehehe
Sunday, December 26, 2010
Gunung Padang (Part 1)
Jumat malam, jelang wiken. Gw n teman2, seperti biasa sudah mulai tidak merasa nyaman jika belum nemu ide, akan kemana wiken ini? Dan jam 9 malam, kami pun memutuskan untuk ke Bandung. Komentar gw datar saat deng
ar kata 'Bandung'. Meragu. Karena, mereka mau untuk segera berangkat ke esokan paginya. Sementara gw? *pfuih absen les bahasa lagi nih
Friday, October 29, 2010
Relung (Part 6)
Berkali-kali ku coba buka mata ini. Berat rasanya. Entah sekarang jam berapa. Yang aku tahu, cahaya matahari begitu kuat menerobos masuk lewat sela daun jendela kamarku. Ku lirik jam di dinding. Jam 1 siang. Pfuih, 12 jam lebih aku tidur.
Aku tidak segera beranjak. Masih terkapar dalam kantukku.
Aku tarik selimut kembali menutupi seluruh tubuh.
Argh, bangun!!!!
Ku duduk di tepian tempat tidur. Beranjak menuju jendela kamar dan membukanya lebar-lebar. Panas euy, keluhku. AC ku matikan.
Musik turn on. Gen Fm. Sindentosca – Kepompong. Medium beat. Ini yang aku ingin dengar saat ini.
Perlahan aku menuju dapur. Berhati-hati dengan langkahku.
Aku tidak segera beranjak. Masih terkapar dalam kantukku.
Aku tarik selimut kembali menutupi seluruh tubuh.
Argh, bangun!!!!
Ku duduk di tepian tempat tidur. Beranjak menuju jendela kamar dan membukanya lebar-lebar. Panas euy, keluhku. AC ku matikan.
Musik turn on. Gen Fm. Sindentosca – Kepompong. Medium beat. Ini yang aku ingin dengar saat ini.
Perlahan aku menuju dapur. Berhati-hati dengan langkahku.
Saturday, April 10, 2010
Relung (Part 5)
Ku hanya terdiam. Ku pejamkan mata serapat yang aku bisa. Tak ingin rasanya membaca jika ku tahu harapan yang ku miliku terpatahkan begitu saja.
Sendiri. Itu yang aku rasa kini.
Rasa itu memang bermain di antara kita dan mengalir begitu saja. Meski aku, kamu sudah mengetahui hati ini telah dimiliki siapa. Dan aku sudah jelas tahu kamu telah dimiliki. Tapi, rasa yang terlarang itu mengalir juga. Perasaan suka, mengagumi, sayang, dan tidak ingin ditinggalkan pun terjadi.
Aku pernah tahu ketika kamu menangis karena takut ku meninggalkanmu. Ku pernah mendapat marahmu tatkala aku mengatakan pergi tanpa sepengetahuanmu.
Sendiri. Itu yang aku rasa kini.
Rasa itu memang bermain di antara kita dan mengalir begitu saja. Meski aku, kamu sudah mengetahui hati ini telah dimiliki siapa. Dan aku sudah jelas tahu kamu telah dimiliki. Tapi, rasa yang terlarang itu mengalir juga. Perasaan suka, mengagumi, sayang, dan tidak ingin ditinggalkan pun terjadi.
Aku pernah tahu ketika kamu menangis karena takut ku meninggalkanmu. Ku pernah mendapat marahmu tatkala aku mengatakan pergi tanpa sepengetahuanmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.
