Sunday, February 06, 2011

#Padang - #Padang Pariaman, West Sumatra (Part 4)

Jujur, kecewa saat tahu, perjalanan jauh ke Bunguis tidak mendapatkan gulai kakap. Gulai jengkol pun tetap membuatku bergeming. Tidak tergoda. Mati rasa. Makan pun hanya sekedarnya. Mungkin, memang perjalanan ini tidak memberkatiku untuk mencicipi makanan khas masing-masing daerah. Apapun itu, lewat. Padahal, sejak pagi tadi, perutku belum pula ku isi nasi, kecuali sate padang di lapangan imam bonjol siang tadi.
Jam 5, mengejar waktu ke Padang Pariaman. Tawaran berikutnya adalah mengunjungi situs syekh Burhanudin, entah apalah itu. Blind Traveler, aku ikut aja. Estimasi waktu 1 jam tiba di lokasi. Dengan kondisi jalan track lurus, maka akan jauh lebih cepat. Itu asumsiku saja. Ternyata, jalan yang ku lewati adalah berbalik 180 derajat.

Saturday, February 05, 2011

#Painan - #Padang, West Sumatra (Part 3)

Lepas makan pagi, aku segera melakukan persiapan terakhir berkemas. Tidak ada bawaan berarti, kecuali pakaian kotor, dan segudang kenangan tentang Painan di hati dan pikiran, serta barang bukti di kamera digital.
10:30 Uda Inang, menghentikan mobil travel menuju Padang. Hanya aku penumpangnya. Berbeda dengan kali pertama menumpang mobil travel saat di bandara, kali ini aku jauh lebih rileks. Sesekali memejamkan mata, namun, lagi-lagi pemandangan Painan - Padang memaksaku untuk terus terjaga. Hanya aku dan 2 penumpang lainnya saat itu. Laju mobil juga tidak terlalu kencang. Jadi, aku benar-benar menikmati perjalanan. Padahal, aku tidak tahu titik balik ke Padang. Beberapa titik ku lupa. Hanya pada saat aku lihat papan penunjuk arah jalan padang painan, baru lah aku paham, jalur yang ku lalui kemarin.

Tuesday, February 01, 2011

Rahasia

Jika menatap cermin, ku pilih tak miliki rawut seperti saat ini
Jika menarik nafas dalam, ku pilih tak rasakan galau ini
Sempurna ku rasakan, betapa ku tak ada daya simpan ini darimu
Cela ku rasakan, betapa ku tak ingin salah di depanmu jika ku jujur
Sungguh ku tak ingin sesali bertemu denganmu
Dan sungguh ku ingin akui kelemahanku
Ku tak pernah mampu jujur
Ku pun tak ingin kau hilang saat jujur menghampiri
Merasakan hangat penerimaanmu
Dan hangat air mata kala ku tulis puisi ini
Aku pernah digauli galau sekian lama
Dan kini ku kalah
Maka ku yakin, ku tak kan lagi melangkah
Cukup pada titik ini
Powered by Blogger.