Toraja itu eksotik! Toraja itu luar biasa! Kalau sudah ke Toraja pasti keren!
Ah, proses ke Torajanya yang ga semuda menyebut diri keren, luar biasa kalau sudah injakan kaki ke sana. Proses, brow! Apa yang dilihat? apa tujuannya? Rute mana yang diambil? Pelajari pula adat dan kebiasaan warga lokal. Toh, travelling tidak sekedar keluar rumah, tapi, juga temukan sesuatu yang membuat diri jadi beda. Apa itu? Setiap orang pasti punya misi, kan?
Kurang dari 2 minggu itu, aku banyak belajar terkait dengan Toraja. Bukan hanya adat istiadat warga lokal, tapi juga tipografi jalan, peta kota, transportasi, rute, dan lingkungan. Semua ku lahap. Aku hanya ga mau gagal dalam perjalanan ini. Semua informasi aku lahap, karena ini kali pertama perjalanan ku ke Toraja, dan utamanya ke pulau Sulawesi. Toh, uang yang aku keluarkan juga tidak sedikit. Itu sebab, aku benar-benar pahami keadaan. Banyak tanya lah, dengan orang-orang yang pernah injakkan kaki ke Toraja.
Komunitas perjalanan itu erat kok, hubungan emosionalnya. Percaya deh.
Dari informasi yang kudapat, aku kemudian membuat itineraire untuk 6 hari perjalanan. Waktu tempuh, ku perhitungkan cermat. Jam bangun pagi. Jam sarapan, berangkat. Jatah waktu makan siang, porsi istirahat diperjalanan, sampai peta perjalananpun aku cetak. Jarak tempuh kilometer dan jamnya aku catat. Detail se detail-detailnya. Buat apa? Kan lagi liburan? Oke, liburan pun harus disiplin.
Saturday, January 26, 2013
Sulawesi pertama kali (Part 1)
Bisa jadi kali ini adalah rencana perjalanan yang membuat aku labil. Tiket Jakarta - Kinabalu yang telah ku beli hampir setengah tahun lalu, batal ku gunakan. Alasannya, karena kurang dari sebulan, aku belum juga dapatkan tiket yang terjangkau. Tiket balik dikisaran 350 MYR. Padahal tiket ke Kinabalu saat itu ku beli di harga 150K IDR.
Bukan aku kalau tidak bisa utak-atik rute, meski harus menggunakan connecting flight, ke KL kemudian Jakarta. Atau ke Singapura kemudian Jakarta. Atau ke Penang terus ke Jakarta. Tapi, lagi-lagi buntu. Harga tiket masih diluar jangkauanku. Kalau dihitung-hitung, yah, sama aja, 400 MYR. Rugi menurutku. Logis.
Belum kelar urusan tiket, aku juga utak atik urusan hotel. Nah, hotel yang aku gunakan selama di KK pun (Kota Kinabalu) tidak strategis, jauh dari pusat kota. Memang sih, disediakan shuttle bus. Tapi, urusannya jadi ketergantungan. Jadwal pun terbatas. Well, meski dapat harga yang super murah pun, aku, pada akhirnya batal menggunakan. Utak atik waktu, durasi perjalanan. Ga masuk di logika ku. Walhasil, perjalanan ke KK pun aku merugi. Nominalnya berapa? 450K IDR. Aku putuskan dan tekad bulat, batal, agar tidak merugi terlalu besar. Cukup lah. Dan aku kemudian bersiasat. Kemana?
Sabang? Beuh, waktu kian menipis dari jadwal cutiku. Kurang dari sebulan. Belum riset, belum buat itineraire. Panik.
Bukan aku kalau tidak bisa utak-atik rute, meski harus menggunakan connecting flight, ke KL kemudian Jakarta. Atau ke Singapura kemudian Jakarta. Atau ke Penang terus ke Jakarta. Tapi, lagi-lagi buntu. Harga tiket masih diluar jangkauanku. Kalau dihitung-hitung, yah, sama aja, 400 MYR. Rugi menurutku. Logis.
Belum kelar urusan tiket, aku juga utak atik urusan hotel. Nah, hotel yang aku gunakan selama di KK pun (Kota Kinabalu) tidak strategis, jauh dari pusat kota. Memang sih, disediakan shuttle bus. Tapi, urusannya jadi ketergantungan. Jadwal pun terbatas. Well, meski dapat harga yang super murah pun, aku, pada akhirnya batal menggunakan. Utak atik waktu, durasi perjalanan. Ga masuk di logika ku. Walhasil, perjalanan ke KK pun aku merugi. Nominalnya berapa? 450K IDR. Aku putuskan dan tekad bulat, batal, agar tidak merugi terlalu besar. Cukup lah. Dan aku kemudian bersiasat. Kemana?
Sabang? Beuh, waktu kian menipis dari jadwal cutiku. Kurang dari sebulan. Belum riset, belum buat itineraire. Panik.
Saturday, January 19, 2013
Relawan Cerdas Emosi
Pada akhirnya, aku melipir jauh dari lokasi tujuan semula ku, saat memutuskan keluar rumah siang ini. Tidak hanya terpaut jauh dari lokasi, tapi juga terpaut perbedaan suasana.
Awalnya, ku akan duduk santai menatap layar untuk sebuah acara rilis film pendek teman baikku. Namun, ajakan teman lainnya, memaksa aku berkutat dengan popok, celana dalam, susu, buah, mainan anak, dan terpal.
Toh, nyatanya, ajakan yang tidak bisa ku tampik. Ini menyenangkan hati.
Satu persatu teman datang ke sebuah grosir, menghabiskan uang untuk keperluan pengungsi yang dikira akan membantu. Hasil saweran. Spontanitas.
Berkadus-kadus dikemas dan langsung di bawah ke lokasi posko. Ada yang mengkoordinir memang. Aku hanya sekedar partisan, yang kemudian mati gaya.
Begitu banyak orang di berbagai posko. Baik dari kelompok komunitas, maupun lsm. Kemudian aku berpikir, tidak perlu ngotot berbuat kebaikan. Mungkin, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengulurkan tanganku. Serahkan tangan-tangan Tuhan lainnya yang bekerja terlebih dahulu. Jika mungkin sempat dan diijinkan, akan ada waktunya.
Awalnya, ku akan duduk santai menatap layar untuk sebuah acara rilis film pendek teman baikku. Namun, ajakan teman lainnya, memaksa aku berkutat dengan popok, celana dalam, susu, buah, mainan anak, dan terpal.
Toh, nyatanya, ajakan yang tidak bisa ku tampik. Ini menyenangkan hati.
Satu persatu teman datang ke sebuah grosir, menghabiskan uang untuk keperluan pengungsi yang dikira akan membantu. Hasil saweran. Spontanitas.
Berkadus-kadus dikemas dan langsung di bawah ke lokasi posko. Ada yang mengkoordinir memang. Aku hanya sekedar partisan, yang kemudian mati gaya.
Begitu banyak orang di berbagai posko. Baik dari kelompok komunitas, maupun lsm. Kemudian aku berpikir, tidak perlu ngotot berbuat kebaikan. Mungkin, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengulurkan tanganku. Serahkan tangan-tangan Tuhan lainnya yang bekerja terlebih dahulu. Jika mungkin sempat dan diijinkan, akan ada waktunya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.
