Thursday, March 24, 2011

#Bukittinggi, West Sumatra (Part 10)

Setelah 3 jam berkeliling kota dengan berjalan kaki seorang diri, aku pun kembali ke titik nol, Menara Jam Gadang. Di sinilah, aku janji ketemu lagi dengan Am. Namun, belum panjang lebar bercerita perjalanan city tour dengannya, Am ajak aku liputan kriminal. 5 menit dari Menara Jam Gadang, ada kasus seorang pria yang tewas di dalam kamar penginapan. Dugaan saat itu adalah over dosis. Bersama reporter tv lokal yang bersamanya saat itu, kami pun menuju tempat kejadian perkara. Sesaat nafsu liburanku hilang. Nafsu liputan yang kemudian menguasaiku. Kasus kematian pula. Widiiiih. Kebayang seperti apa sosok jenazah tersebut.

Thursday, February 17, 2011

#Bukittinggi, West Sumatra (Part 9)

29 Januari '11, sabtu jam 10:45 aku akhirnya, menjejakkan kaki di Bukittinggi. Gerimis.
Suasana basah seperti ini mengingatkanku pada satu kota lain. Apalagi saat aku kemudian menyusuri jalan mendaki dan basah. Aku merapat ke trotoir di mana mobil-mobil parkir di bahu jalan. Berjajar pula ruko-ruko yang menjajakan beragam buah tangan, makanan, kantor bank, depstore, restoran cepat saji. Ada yang khas, dan aku suka suasana ini. Suasana berbeda justru berkaca dengan penampilanku, celana panjang kargo, topi kupluk, sendal gunung, plus ransel. Cool, hein??!!???!!!
Aku telepon Amfrezer, teman kontributor kantor yang bermukim di kota ini. Aku menunggunya di..... ah, sebenarnya aku paling fasih menentukan arah mata angin, entah kenapa saat itu, aku lepas kendali dan lupa arah mata angin. Titik pertemuan yang aku syaratkan di depan gedung pertemuan, dan memang gedung itu satu-satunya yang berada di sekitar Jam Gadang.
G, Jam Gadang!!!!!!!

Tuesday, February 15, 2011

Relung (Part 7)

Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Gelisah seketika itu juga menyelimutiku. Geram pun merajaiku. Lama jemariku tak berkutik di atas keyboard. Tertegun. Bingung.
Rasa kangen dan sayang itu begitu menyakitkan aku. Tapi rajutan kalimatnya yang menolakku seperti sebuah tamparan keras.
“Bimo”.
Entah dorongan apa yang menguatkanku, meski hanya sebuah kata dari dua huruf saja.
“ya”.
Damn. “Kenapa aku harus membalasnya?” keluhku dalam hati. Tekanan begitu dalam yang aku rasakan saat ini. Semuanya begitu bercampur aduk.
“Apa kabar, Bimo?”
“Hai! Kabarku standar aja”. Jawabku apa adanya.
“Kok standar?”
What the hell???? Gerutuku. Nggak tahu apa, yang udah lo lakukan ke gue? Nggak tahu apa gimana susahnya gue saat ini? Umpatku bertubi-tubi. Pfuih gak ngefek juga. Toh dia gak tau bagaimana ekspresi wajahku menatap layar monitor. Geram. Marah.
Powered by Blogger.